Senin, 07 November 2016

Sedikit kisah tentang broken home. Silahkan klik tanda play pada gambar/video



  • Dari video tersebut saya akan bercerita sedikit tentang kehidupan yang saya alami


Berjuanglah untuk orang yang sayang dan menyayangimu


Mungkin hampir semua teman saya mempunyai keluarga yang utuh dan bahagia, tapi tidak dengan cerita yang saya miliki. Saya adalah anak pertama dan mempunyai dua adik, saya hidup dikeluarga yang sederhana. Awalnya keadaan keluarga masih tentram dan bahagia dari saya kecil hingga memasuki SMA, kehidupan kami Alhamdulillah serba kecukupan dengan pekerjaan ayah wiraswasta yang mengurus usaha miliknya sendiri sedangkan ibu bekerja sebagai guru biasa. Keadaan mulai berubah ketika saya berada di bangku SMA kelas 3, kedua orang tua saya mempunyai masalah hingga membuat hubungan kedua orang tua saya tidak harmonis, disisi lain ayah juga mengalami masalah dengan bisnisnya, hampir semua harta dan barang2 yang dimilkinya di jual untuk menyelesaikan masalahnya. Bisa di sebut bangkrut tapi tidak sepenuhnya. Disitulah awal hubungan kedua orang tua saya mulai merenggang, sering terjadi cekcoh antara ayah dengan ibu dan aku menyaksikannya. Sebenarnya saya sangat benci dengan hal seperti itu, dan lebih bencinya lagi selalu saya yang disalahkan sedangkan saya tidak pernah tau apapun mengenai masalahnya, saya yang selalu jadi korban keegoisan mereka hingga pada suatu hari membuat saya berontak dan mengamuk karena saya sudah tak tahan lagi. Saya sebagai kakak untuk adik-adik saya tidak diam saja, saya berusaha membunjuk kedua orang tua saya untuk menyelesaikan masalah itu baik baik dan tidak dengan emosi, tapi semuanya sia sia, orang tua  justru balik memarahi saya dan saya tidak boleh ikut campur dalam masalah tersebut. Saya tidak mau imbas dari pertengkaran kedua orang tua saya akan berpengaruh terhadap kedua adik saya.  Apalagi adik saya yang terakhir masih TK, maka dari itu saya berusaha untuk selalu membunjuk orang tua saya untuk menyelesaikan masalahnya dengan baik baik, tanpa mengenal lelah dan selalu berdoa kepada Allah saya terus mencoba dan mencoba agar keluarga saya kembali membaik dan harmonis. Setelah saya lulus SMA permasalahan tak kunjung usai, kedua orang tua saya malah berpisah rumah, saya dan kedua adik saya ikut dengan ibu, nenek dan kakek orang tua dari ibu. Disitulah saya dan kedua adik saya hidup dan tumbuh sampai sekarang dengan hidup yang sederhana di rumah kecil milik kakek dan nenek. Ibu yang selalu berjuang dalam membiayai segala kebutuhan sekolah dan hidup saya maupun kedua adik saya dengan gaji tak seberapa hasil dari mengajar namun alhamdulillah saya dibantu dengan gaji dari hasil pensiunan kakek karena kakek saya dulunya adalah seorang TNI. Dari situlah saya bisa melanjutkan kuliah walau perjuangan tak mudah terutama bagi ibu yang berjuang sendirian.
Terkadang ayah juga mengirim uang untuk saya dan kedua adik saya tapi itu semua itu tidak bisa saya andalkan karena beliau tidak secara pasti mengirim uang, terkadang hampir berbulan bulan tidak ada kabar, tidak bisa di temui apalagi di hubungi. Saya merasa kasihan kepada ibu yang selalu berjuang keras demi mencukupi kebutuhan keluarga, demi melihat anak anaknya terus bersekolah dan demi melihat anak anaknya bisa tidak kesusahan. Saya salut kepada ibu saya disini ibu menggantikan peran ayah yang selama ini telah meninggalkan keluarga, tidak hanya itu ibu juga tidak lupa terhadap peran ibunya yang selalu sabar dan ikhlas dalam menghadapi segala masalahnya, membimbing anaknya, merawat anaknya hingga besar dan bertumbuh dewasa. Beliau adalah wanita terkuat versi saya, karena sifatnya yang tak pernah mengeluh, dalam keadaan sakitpun beliau tetap berusaha bekerja. Didalam hidup saya sekarang ibu adalah segalanya, ibu yang sangat berperan penting dalam kehidupan saya selama ini, walaupun saya dan kedua adik saya terkadang ada rasa rindu untuk berkumpul kembali dengan ayah, tapi mungkin itu mustahil karena menghubungi ayah saja terkadang tidak ada balasan, disisi lain juga nenek yang sepertinya tidak suka jika saya dan kedua adik saya bertemu dengan ayah, entah kenapa saya tidak tau alasan pastinya karena setiap kali saya bertanya kenapa? Ibu selalu tidak menjawab dengan jujur.
Saya sempat berpikir untuk berhenti kuliah dan memilih untuk bekerja membantu beban ibu tapi justru malah tidak di setujuinya. Saya pun termotivasi untu tetap terus kuliah bila perlu saya akan cari ilmu setinggi mungkin agar saya bisa sukses lalu saya bisa membahagiakan keluarga terutama ibu. Disini saya kuliah tidak mau asal-asalan hanya kuliah, tidur, makan lalu kuliah lagi, tapi saya juga berusaha meraih prestasi baik akademik maupun non akademik. Kebetulan saya mahasiswa olahraga jadi saya bisa memanfaatkan potensi saya di bidang olahraga tertentu untuk meraih prestasi.
Sekarang  saya sudah  mulai dewasa yang mana saya sedang berjuang meraih gelar ijazah S1, saya menimba ilmu di kota orang, saya tinggal dikos-kosan yang biayanya tidak sedikit, pengeluaran ibu kini makin bertambah untuk membayar sewa kos saya dan biaya kuliah saya selama 4 tahun, disisi lain ibu. Terkadang saya prihatin juga ketika ibu blm bisa mengirim uang saku untuk makan, saya lebih memilih untuk semalaman tidak makan dulu sampai pagi sebelum ibu mengirim uang. Saya rela karena saya tau susahnya perjuangan beliau untuk membiayai anak-anaknya, bayangkan saja seorang perempuan berjuang sendiri menghidupi 3 anaknya.
Entahlah saya sudah mencoba berbagai cara untuk menyatukan kedua orang tua, namun hasilnya selalu sia-sia, jujur terkadang saya depresi sendiri ketika sedang merasa lelah menghadapi masalah ini. Siapa si yang tahan dengan keadaan keluarga yang terpisah, rasa sedih yang selalu menghantui, rasa ingin marah dan sebagainya bercampur jadi satu. Tapi saya berpikir juga meskipun saya berada di keluarga broken home seperti ini jangan sampai saya melampiaskan amarah dan kesedihan saya dengan hal-hal yang negatif, saya hanya takut mengecewakan sosok perempuan yang telah berjuang keras untuk saya. Saya tak pernah ingin terlihat cengeng dan sedih karena memang bukan sifat saya, saya benci menangis karena itu hanya membuat kepala saya pusing sendiri. Saya lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama teman-teman kuliah dan di luar kuliah untuk bercanda tawa, dengan adanya mereka sejenak saya bisa menghibur diri saya sendiri. Saya hanya berdoa semoga saya bisa lulus S1 secepatnya apabila Allah menghendaki saya ingin melanjutkan S2. Saya ingin bekerja keras untuk keluarga, untuk membahagiakan masa tua orang tua saya.

Sekian cerita dari saya, semoga dapat bermanfaat untuk kalian yang membacanya

So thank you so much